Syarat, Kewajiban, dan Rukun Haji serta Umroh

 

Umroh Desember – Sebenarnya jika kita membahas mengenai syarat, wajib, dan rukun haji dan juga umroh, perihal ini terkait erat dengan tata-cara atau teknis haji atau umroh itu sendiri. Di kalangan keempat madzhab yang tersedia masing-masing punya pendapatnya masing-masing. Dalam prakteknya, penduduk mampu langsung mempelajari perihal ini saat sudah mendaftar haji karena tentu sebelum saat berangkat lebih-lebih dahulu tentu tersedia bimbingan haji pada tiap-tiap area di Indonesia.

Sedangkan syarat haji, kita mampu merujuk pada pedoman lazim di dalam pembahasannya mengenai fiqih kontemporer di dalam buku Fiqh Islam karya H.Sulaiman rasyjidin halaman 346 ditulis bahwa tersedia empat syarat mesti haji yaitu:

1. Islam
2. Mukallaf (Berakal dan Baligh). Baligh berarti orang yang sudah mampu membedakan antara yang benar dan yang salah.
3. Orang Merdeka (tidak berstatus jadi budak). Di Indonesia sudah tidak tersedia lagi proses perbudakan.
4. Mampu atau Kuasa (memiliki kemampuan jalankan haji sendiri). Dalam bhs arab mampu atau kuasa disebut istatha’ah.

Kemudian kategori ini mampu diperluas lagi yakni orang yang punya kondisi kesegaran baik, terdapatnya kendaraan yang mampu dimanfaatkan untuk pulang/pergi, terdapatnya keamanan di dalam perjalanan, punya bekal yang lumayan selama menunaikan ibadah haji, dan bagi perempuan mesti disertai oleh muhrimnya atau dengan dengan perempuan lain yang tersedia muhrimnya.

Secara rukun, ibadah haji membutuhkan kemampuan fisik yang lebih berasal dari pada umroh karena wilayah yang bakal dikunjungi beraneka ragam dengan kuantitas jamaah yang jauh lebih banyak. Rangkaian ibadah haji mesti mendatangi Arafah, Muzdalifah dan Mina pas rangkaian ibadah umroh cuma ditunaikan di sekitaran masjid Al-Haram dan Ka’bah saja. Persamaannya, baik di dalam ibadah haji maupun umroh juga mesti bertawaf di Kakbah (mengelilingi) dan Sai (lari-lari kecil) di Safa dan Marwah. Oleh karena itu baik ibadah haji maupun umroh membutuhkan kesiapan fisik yang prima.

Dasar-dasar agama Islam

Dasar-dasar agama Islam diketahui dengan sebutan Rukun Islam ( Arkan al-Islam ). Rukun Islam ini merupakan sendi-sendi atau ketentuan basis agama Islam . Dasar-dasar ini disepakati oleh semua aliran teologi Islam

Rukun Islam ini terdiri dari lima poin sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Bukhari-Muslim. Ketika Jibril menanyakan kepada Nabi Muhammad SAW, mengenai apakah yang dimaksud dengan Islam, Nabi menjawab,”Islam adalah jikalau engkau bersaksi tiada Tuhan disamping Allah serta Muhammad ialah utusan-Nya, dirikan shalat, keluarkan zakat, berpuasa terhadap bulan Ramadhan serta engkau ibadah haji ke Baitullah bila mempunyai kemampuan”. ( HR Bukhari – Muslim )

Kelima rukun Islam tersebut ialah :
1. Syahadah, pengakuan bahwasanya tak adanya Tuhan disamping Allah serta Muhammad ialah Rasul Allah

2. Shalah, lima kali sehari
3. Zakah, mengelurkan sebanyak harta sehabis mencapai nishab (batas minimal harta wajib zakat)
4. Syiyam / Shawm , puasa terhadap bulan Ramadhan
5. Hajj, menunaikan ibadah haji ke Makkah sekali seumur hidup bagi mereka yang mempunyai kemampuan buat mengerjakannya baik secara fisik ataupun secara finansial

Mereka yang meyakini serta mengerjakan ketentuan-ketentuan basis Islam ini dikatakan Muslim. Sedang mereka yang tak mengerjakannya ( tapi tak mengingkarinya ) empat rukun terakhir, tak dipandang keluar dari agama Islam Syahadah , rukun yang pertama, amat esensial kedudukannya, pasal dengan tidak syahadah seseorang tak bisadikatakan MuslimSudah. menjadi kenyataan di masyarakat terkandung sebanyak Muslim tak mengerjakan rukun Islam ini kecuali Syahadah, tapi mereka masih tetap Muslim jika tak mengingkari seluruh sendi-sendi Islam tersebut Rukun Islam yang kedua , yakni shalat, mempunyai kedudukan yang sangat serius dalam Islam serta merupakan fondasi yang kokoh bagi tegaknya agama Islam. “Shalat itu tiang agama”, kata Rasulullah SAW. Oleh Karena itu , baik secara spiritual ataupun secara hukum, shalat ini amatpenting, karenanya tak terkandung sebab mengapa yang sah buat tidak membawa shalat kecuali bagi wanita yang haid , sedang terhadap ketiga rukun berikutnya terkandung sebanyak rukhshah ( dispensasi )

Shalat sesegera mungkin dilaksanakan terhadap waktunya, kita tak bisa mewakilkan atau diubah dengan yang lain, layaknya membayar fidyah sebagai substitusi puasa yang tak bisa dilakukan, pasal adanya sebab mengapa tertentu

Rukun ketiga, zakat, yaitu salah satu rukun Islam yang merupakan ibadah kepada Allah SWT serta dan merupakan juga merupakan amal sosial kemanusiaan. pasal pentingnya itu, di dalam Al-Quran, kata zakat banyak dikatakan dalam satu rangkaian dengan shalat dalam satu ayat. adanya 26 kata zakat yang senantiasa dikaitkan dengan shalat. Perihal ini tunjukkan betapa serius peran zakat dalam kehidupan umat Islam

Ayat-ayat Al-Quran yang mencantumkan kata shalat yang diikuti kata zakat salah satu Surah Al-Baqarah (2) ayat 43, 83, 110; An Nisa (4) ayat 77; Maryam (19) ayat 31 serta 55; An Nur (24) ayat 56; Al Mujadilah (58) ayat 13; Al Muzzammil (73) ayat 20; serta Al Anbiya (21) ayat 73 Keempat ialah puasa terhadap bulan Ramadhan. Dalam Al-Quran puasa dikatakan dengan istilah shiyam serta dalam hadits kebiasaannya memakaikan kata shawm. Masyarakat Sunda memakaikan kata siam atau saum jika berbicara dengan ragam bahasa halus. buat ragam bahasa sedang atau kasar kebiasaannya urangSunda memakaikan kata puasa

Rukun kelima ialah ibadah haji yang diwajibkan cuma sekali seumur hidup, itu pun jika dapat secara fisik serta finansial buat melaksanakannya. Ibadah haji yang kedua sertaseterusnya hukumnya sunnah. pasal hukumnya sunnah, tersebutkan seorang Muslim / Muslimah sesegera mungkin lebih memprioritaskan hal-hal yang wajib .